Saturday, 1 June 2013

Cerpen Misteri : Cerpen Sang Idola

Langsung ke cerpen aja yak.....
silahkan tinggalkan  komentar saran dan juga kritiknya ya. :-)











Aku duduk termenung di meja belajarku dengan rasa masih terkejut akan kenyataan yang ada, semua tatapan - tatapan aneh yang ku dapat dari setiap orang yang ada di sekolah kini terjawab sudah. Ya mereka melihatku seperti seseorang yang telah mati namun tiba - tiba hidup kembali, mungkin lebih tepatnya seperti hantu Aira yang kini bergentayangan.

Ini sedikit melegakan bagiku, bukan bukan karena aku suka dianggap sebagai hantu teman mereka yang bernama Aira, tapi setidaknya aku sudah tau alasan kenapa mereka memandangku demikian. Namun aku tak mampu berbuat apa - apa agar mereka mau menerimaku sebagai Aira Ramadhani bukan sebagai hantu Aira Natasya.

Sejenak ku alihkan pandangan ke arah luar jendela yang sedang diguyur hujan,melihat air yang kini sedang berlomba turun ke bumi dan berlonjatan di tanah dengan girangnya. Aku merasa bingung akan mimpi tentang Aira yang sering muncul dalam tidurku

"Kenapa Aira muncul dalam mimpiku? Seakan dia ingin menyampaikan sesuatu padaku" Gumamku sambil mendesah pelan. Tiba - tiba terdengar suara pintu dibuka membuatku terlonjak kaget.

"Kakak dari habis pulang sekolah samapai sekarang ko' di kamar terus? Lagi galau ya?" Tanya Vivi yang sudah melongokkan kepalanya diambang pintu kamar.

"Kamu itu Vi ngagetin kakak aja" Kataku sambil mengusap dada, Vivi hanya tersenyum dan berjalan menghampiriku.

"Kenapa harus kaget orang aku cuma buka pintu tanpa diketuk" Balas Vivi sambil duduk di ranjangku dan mengambil boneka teddy bearku.

"Makanya kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu" Balasku kesal karena telah diganggu oleh Vivi.

"Iya iya" Ucap Vivi tanpa menoleh kearahku. "Oiya kakak kenapa ko' dari tadi nggak keluar kamar?" Tanya Vivi dengan penuh perhatian.

"Lagi males aja" Jawabku singkat. Vivi lalu bangkit dan berdiri disampingku, bermain - main dijendela dengan mengusap - ngusap jarinya ke jendela yang berembun karena hujan.

"Oiya gimana sikap temen - temen kakak di sekolah, ada berubahan?" Tanya Vivi sambil meniup - niup jendela agar tambah berembun.

"Nggak ada perubahan, tapi kakak sudah tau kenapa mereka melihat kakak seperti ketakutan" Jawabku dengan nada muram.

"Emang kenapa mereka takut sama kakak? Padahal menurut Vivi kakak nggak punya tampang jahat tuh?" Jawab Vivi dengan nada polosnya.

Aku berdiri menghadap ke jendela mensejajarkan badanku dengan badan Vivi. Ku menatap bayanganku kearah jendela, meski buram namun terlihat bayangan diriku berdiri disamping Vivi.

"Apa benar aku sebegitu mirip sama dia? Bahkan orang - orang memandangku dengan takut karena mereka menganggap aku adalah hantunya" Gumamku sendiri pada jendela tanpa menghiraukan reaksi bingung Vivi yang sedang memandangku.

"Maksud kakak apa? Siapa yang jadi hantu siapa?" Tanya Vivi kebingungan karena ucapanku.

"Apa kamu pernah merasakan Vi, saat kamu mempunyai seorang teman di sekolah dan teman kamu itu sudah meninggal 2 bulan yang lalu karena bunuh diri, saat kamu sudah hampir melupakan kesedihan karena kehilangannya namun tiba - tiba datang seorang murid baru yang sangat mirip dengan teman kamu yang sudah meninggal, apa kamu akan berpikir kalau murid baru itu adalah hantu dari teman kamu?" Kataku panjang lebar sambil memandang Vivi yang masih mengkerutkan kening.

"Aku nggak tau, soalnya aku belum pernah mengalaminya, mungkin akan sedikit takut untuk menjadi temannya. Tapi dengan seiringnya waktu pasti aku bisa menerimanya" Kata Vivi sambil tersenyum, aku pun tersenyum memandangnya.

"Jadi begitu posisi kakak di sekolah, mereka melihat kakak seperti hantu teman kakak" Kata Vivi menarik kesimpulan dari apa yang aku katakan tadi. Aku hanya mengangguk pelan dan melihat kearah jendela memandangi hujan yang sudah dari tadi turun ke bumi. Tanpa terasa air mataku jatuh tanpa seijinku.

"Benarkah semua ini? Sebegitu menakutkan kah diriku hingga membuat aku tak bisa berteman dengan siapapun di sekolah?" Batinku sambil terus memandangi air hujan. Vivi hanya bisa diam memandangku dengan sedih.

Cerpen Misteri : Cerpen Sang Idola


Di sekolah aku berjalan menuju kelas dengan lesu tanpa ada rasa semangat sama sekali, Aku merasakan begitu menakutkannya diriku bagi teman - temanku. Aku berjalan dengan menundukkan kepala tanpa sengaja menabrak seseorang yang berada di depanku.

"Maaf maaf" Kataku sambil mendongak menatap orang yang aku tabrak. Orang yang ku tabrak sangat terkejut melihatku, rasa takut diraut mukanya tergambar begitu jelas saat melihatku.

"Kau masih hidup?" Gumam gadis yang ku tabrak sambil menunjukku.

Aku tidak kaget mendengar ucapan seperti itu, tapi aku merasa ada yang aneh dengan raut wajahnya. Tak seperti raut wajah para siswa yang lain, raut mukanya benar - benar seperti ketakutan dan sangat - sangat tak percaya.

"Ini ini tak mungkin" Gumamnya terbata - bata sambil melangkah menjauh dariku, aku hanya bisa terbengong melihatnya.

"Benar - benar raut muka yang aneh" Gumamku sambil menghela napas dan berjalan kembali menuju kelas.

Sesampainya di kelas ku letakkan tasku dan memandang kearah jendela terlintas dipikiranku akan raut muka siswi tadi. Kaila datang dan langsung meminta ijin untuk duduk disampingku.

"Boleh aku duduk disini" Katanya sambil tersenyum padaku, ini pertama kalinya ada teman sekelas yang ingin duduk disampingku, dengan senang hati aku persilahkan Kaila menempatinya.

"Silahkan" Kataku sambil tersenyum gembira, kami pun kembali sibuk dengan pikiran masing - masing.

"Owh iya, tadi aku sempet melihatmu menabrak seseorang. Apa kau mengenalnya?" Tanya Kaila.

"Hem gadis yang aku tabrak di depan tadi? Aku tak mengenalnya!" Jawabku sambil memandang bingung Kaila.

"Kamu murid baru sih jadi kamu nggak kenal sama dia, dia itu Rena anak ketua komite disini. Dia orangnya sok berkuasa" Ucap Kaila memperkenalkan Rena kepadaku.

"Karena bapaknya ketua komite jadi dia bergaya seperti sok cantik, sok pintar dan segalanya deh. Padahal menurut aku Rena sama Aira cantikan Aira" Lanjutnya, aku yang mendengar namaku disebut lebih cantik dari Rena sedikit salah tingkah.

"Maksudku Aira yang dulu" Kata Kaila yang membuatku tersadar, bukan aku yang dimaksud. Aku hanya bisa tersenyum simpul mendengarnya.

"Aku jadi bingung kenapa ya kak Tio mau sama Rena" Lanjut Kaila sambil menerawang

"Tio itu siapa?" Tanyaku karena merasa asing akan nama Tio.

"Tio itu kakak kelas kita, dia jadi idola semua cewek disini, tapi sayang kenapa dia malah milih Rena yang sok berkuasa itu" Kata Kaila, ada nada tak suka kepada Rena dicara bicaranya.

"Padahal Kak Tio itu cakep, pinter baik lagi, ya walau nggak bisa dibilang ramah. Kalau kamu ketemu sama dia pasti kamu naksir deh" Lanjutnya sambil memandangku, aku hanya bisa tersenyum mendengarnya

"Oh iya, tadi kamu nggak bareng sama Roni? Biasanya suka bareng sama dia?" Tanya Kaila.

"Dia nggak berangkat" Jawabku singkat, Kaila hanya bisa berohh saja.

Obrolanku dengan Kaila terpaksa ditunda karena guru sejarah yang mengajar jam pertama sudah tiba di kelas.

Aku merasa bosan dengan pelajaran sejarah karena materi yang diajarkan sudah pernah aku pelajari di sekolah sebelumnya. Ku edarkan pandangan keluar jendela untuk mengusir rasa bosanku. Mataku tertuju pada dua orang yang sedang membawa sesuatu, tak begitu jelas wajah mereka namun aku bisa memperkirakan bahwa mereka adalah siswa sekolah ini. Karena penasaran ku dekatkan wajahku ke jendela agar bisa melihat dengan jelas apa yang mereka bawa, berbentuk seperti manusia namun tertutup dengan sebuah kain. Aku semakin mempertajam pandanganku agar bisa melihat lebih jelas, saat aku masih mempertajam mataku kain itu tiba - tiba terbuka karena tertiup angin. Seketika itu aku bisa melihat dengan jelas apa yang dari tadi dibawa dengan susah payah oleh dua orang itu. Aku menjauhkan tubuhku dari jendela, ku tutup mulutku merasa ngeri sekaligus tak percaya dengan apa yang kulihat. Seorang yang tak berdaya dan penuh dengan darah di tubuhnya akan dibawa oleh dua orang itu entah kemana, dua orang tersebut berusaha menutup kembali kain penutup orang yang dibawanya. Salah satu dari mereka mengedarkan pandangan dan bertemu pandang denganku, seketika aku palingkan muka untuk menghindari pandangan matanya, betapa terkejutnya aku karena yang ada disampingku ada orang yang sedang mereka bawa dengan masih banyak darah memenuhi sekujur tubuhnya. Aku tak bisa berbuat apa - apa lidahku kelu untuk berteriak tubuhku tak mampu ku gerakan. Keringat dingin menbanjiri tubuh yang gemetar ingin rasanya aku berlari karena ketakutan namun tak ada yang mampu aku lakukan. Orang yang berada disampingku terus menatap dengan pandangan kosong.

"Tolong aku, tolong aku" Kata itu yang mampu aku dengar dari rintihannya, aku mencoba untuk membaca kata istighfar berkali - kali namun lidahku seperti kelu, ku edarkan pandangan untuk mencari pertolongan namun kelas yang tadinya masih penuh dengan siswa kini yang ada hanya aku dan sesosok hantu yang ada dihadapanku. Aku bingung harus berbuat apa? Sedangkan hantu yang ada dihadapanku masih terus memandangku. Ku memejamkan mata dan pasrah dengan apa akan yang terjadi padaku.

Tiba - tiba kurasakan seseorang memegang pundakku, aku tak berani membuka mata karena takut kalau hantu itulah yang memegang pundakku. Pegangan pundakku semakin erat dan seperti mengguncang aku pun memberanikan untuk membuka mata.

"Kamu kenapa Aira? Ko' kaya orang ketakutan gitu?" Tanya Kaila saat aku sudah membuka mataku dan mengedarkan pandangan sekeliling.

Kini kelas menjadi rame dengan siswa yang lain, sedangkan hantu yang tadi ada dihadapankutak ada lagi.

"Ta...... tadi.......... aku...... me..li....hat ada hantu disi.....ni.."Jawabku terbata - bata karena napasku masih tersengal - sengal masih merasakan takut.

"Kamu tadi mimpi buruk ya? Mana mungkin ada hantu siang - siang begini" Tanya Kaila lagi aku hanya bisa memandangnya dengan kebingungan.

"Mimpi? mana mungkin tadi mimpi! Aku tadi nggak tidur dan hantu itu nyata sekali dihadapanku" Jawabku sambil menggeleng - gelengkan kepala mencoba meyakinkan Kaila, semua siswa bahkan guru yang sedang mengerumuniku memandangku dengan pandangan mencemooh.

"Udah jelas - jelas kamu tidur itu di kelas malah ngomongannya ngaco" Kata Pak Rian guru sejarahku. Aku hanya bisa memandang bingung kepada pak Rian dan Kaila secara bergantian, Kaila hanya mengangguk meyakinkanku akan apa yang dikatakan Pak Rian itu benar.

"Saya nggak mau tau, habis jam pelajaran kamu ikut keruangan saya. Enak aja tidur di kelas" Kata Pak Rian sambil melangkah ke meja guru. Aku hanya bisa pasrah menerima perintah dari Pak Rian, Kaila menggenggam tanganku mencoba menguatkan aku tak urung ku tersenyum membalas genggamannya.

Cerpen Misteri : Cerpen Sang Idola


Selesai dari ruangan pak Rian aku berjalan ke arah kelas, aku terus berpikir "Apakah yang tadi aku lihat itu beneran nyata atau hanya mimpiku belaka? Jika memang tadi mimpi kenapa aku bermimpi di sekolah padahal aku yakin kalau aku nggak tertidur" Gumamku sambil terus berjalan dan tanpa sadar aku berada di kelas 3.

"Ya Allah, gara - gara kepikiran mimpi tadi aku jadi salah arah" Kataku sambil menepuk jidat dan segera berbelok arah, tiba - tiba terdengar alunan lagu dari sebuah piano yang sangat merdu.

Aku berjalan mencari sumber suara piano yang entah dari mana asalnya. Ku langkahkan kaki sampai terhenti di depan ruang musik dan menengok kedalam ruang musik kulihat seseorang yang sedang memainkan piano yang ada didepannya dengan sangat trampil, seorang pemuda dengan postur tubuh sedang, memiliki wajah oriental dan terlihat sangat mahir dalam memainkan piano.

Ku pandangi terus pemuda itu, jantungku berdetak kencang seolah mengikuti alunan lagu yang dia mainkan. Tanpa sadar aku melangkahkan kaki untuk masuk kedalam ruang musik dan menutup mata untuk lebih menikmati musiknya. Semakin ku terbuai semakin aku tak sadar kalau musik itu sudah berhenti, ku buka mataku dan betapa kagetnya aku, pemuda yang tadi memainkan piano kini sudah berdiri tegak di depanku, tepat di depanku. membuatku mundur beberapa langkah untuk menghindarinya.

Dia memperhatikanku dengan seksama dari ujung rambut sampai ujung kaki membuatku sedikit grogi karenanya, ku beranikan diri untuk menatap wajahnya, wajah bersih putih membuat jantungku semakin berdetak kencang aku pun menundukkan pandanganku agar tak bertemu pandang dengan matanya.

"Lain kali jangan mencoba untuk mencuri dengar musikku, karena aku nggak suka kalau ada orang yang mendengar permainanku tanpa seijinku" Katanya cukup tegas sebelum meninggalkanku sendirian yang terbengong - bengong akan sikap dinginnya.

Ia melangkah pergi meninggalkanku, aku hanya bisa memandangnya tanpa bisa berkata apa - apa

"Kenapa dia dingin sekali, padahal aku belum sempat mengucapkan kata maaf" Gumam sambil melangkah pergi meninggalkan ruang musik.

Jam sudah menunjukkan pukul 17.50 saat aku selesai mengerjakan hukuman dari Pak Rian, aku pun melangkah pergi meninggalkan ruang kelas untuk segera pulang.

"Aduh, bentar lagi maghrib. Ayah jemput nggak ya?" Gumamku sambil terus berjalan untuk pulang.

Sesampainya ditangga aku melihat seseorang siswi sedang duduk menunduk di tangga 13, ku coba untuk menghampiri dan menyapanya.

"Maaf kamu menunggu siapa?" Tanyaku kepada siswi itu, siswi tersebut tetap menunduk tanpa menjawab pertanyaanku.

"Sebaiknya kita pulang, soalnya udah nggak ada siapa - siapa lagi disini" Kataku mengajak dia untuk pulang, Siswi itu pun mengangguk dan berdiri menuruni tangga, aku mengikutinya dengan sedikit penasaran dari kelas manakah dia?

"Nama kamu siapa?" Tanyaku karena merasa tak pernah melihat siswi tersebut. Siswi itu tetap diam tidak mengucapkan sepatah katapun.

"Aneh kenapa dari tadi dia hanya diam saja?" Kataku dalam hati merasa aneh akan kelakuan siswi tersebut. Kami berjalan di koridor dengan berdiam setelah mendekati pintu gerbang aku mencoba untuk meliriknya. Dia masih diam tanpa ekspresi.

"Rumah kamu dimana? Pulangnya sama siapa?" Tanyaku lagi karena merasa khawatir bagaimana dia pulang sedangkan jam segini sudah tidak ada angkot yang lewat, namun dia masih saja diam tak mempedulikanku sama sekali. Tiba - tiba Roni muncul dan menghampiriku.

"Roni, kamu mau jemput aku?" Tanyaku kepada Roni setelah jarak kami mulai dekat.

"Iya, kamu bicara sama siapa Ra?" Tanya Roni yang merasa heran kepadaku.

"Sama........." Kataku terpotong saat kulihat disamping tak ada siswi yang sedari tadi aku ajak ngobrol.

"Sama siapa?" Tanya Roni lagi sambil menengok kesana kemari.

"Tadi ada siswi yang menemaniku tapi ko' dia nggak ada ya?" Tanyaku heran karena baru saja aku mengobrol padanya tapi dia sudah tidak ada disampingku.

"Kamu ngaco kali? Dari tadi aku lihat kamu berjalan sendirian" Kata Roni dengan nada meyakinkan,

"Nggak mungkin tadi itu ada siswi yang berjalan disampingku" Kataku yang masih ngotot kalau aku nggak ngaco.

"Ya sudah mungkin dia sudah pulang, lebih baik kita cepat pulang ini udah hampir maghrib" Kata Roni sambil melihat jam ditangannya, aku menghela napas dan mengedarkan pandangan mencoba mencari siswi yang tadi aku ajak ngobrol, namun sepertinya memang sudah tidak ada siapa - siapa disini.

Roni mulai mengayuhkan sepedanya saat aku sudah duduk di boncengannya. Aku masih penasaran siapa siswi tadi dan siapa pula pemuda yang ada di ruang musik kenapa mereka misterius sekali.

"Aku tadi sore ke rumah kamu, kata bunda kamu belum pulang. Jadi aku berinisiatif menjemput kamu, kamu nggak keberatan kan Ra?" Tanya Roni, karena terlalu memikirkan siswi tadi aku nggak mendengar apa yang dikatakan oleh Roni. Roni berhenti dan memandangku,

"Kamu nggak apa - apa Ra?" Tanyanya sambil menyenggol tanganku.

"Eh iya kenapa Roni?" Jawabku karena baru tersadar bahwa dari tadi Roni sedangkan berbicara padaku.

"Nggak apa - apa, lupakan saja" Kata Roni sambil mengayuh kembali sepedanya, aku hanya bisa menunduk merasa bersalah padanya.

To be Continue

Kayaknya bahasa yang aku gunakan aneh banget yak? Tapi tak apalah nikmati saja cerpennya hehehehehe :-)


Reactions:

0 comments: